Tokoh Fenomenologi

Tokoh Fenomenologi
Tokoh Fenomenologi

Table of Contents

Tokoh Fenomenologi

Tokoh Fenomenologi
Tokoh Fenomenologi

1. Emmanuel Kant
Kant menamakan bagian keempat dari karyanya yg berjudul Metaphysical Principles of Natural Science asebagai Phenomenology. Bagian ini menguraikan gerak dan diam sebagai karakteristik umum yang menandai setiap gejala. Kant memerlukan studi fenomenologi tentang pembedaan dunia inderawi dan dunia intelijibel guna mencegah kekacauan metafisis antara keduanya.
Ia menyatakan bahwasanya tidak mungkin bagi seseorang untuk mengungkapkan noumena, sebagaimana yang ia ungkapakan:
“Beings of the understanding are admitted, but with the incalculation of this rule which admits of no exception; that we neither know nor can know anything determinate whatever about these pure beings of the understanding, because our pure concepts of the understanding as well as our pure intuitions extend to nothing but objects of possible experience, consequently to mere things of sense”.
Dalam ungkapannya tersebut Kant berusaha untuk menjelaskan bahwasanya esensi dari noumena (The Understanding) adalah diakui, tetapi dengan tanpa adanya perhitungan dari aturan yang tidak mengakui pengecualian. Oleh karena itu kita tidak tahu dan tidak dapat mengetahui penjelasan mengenai keberdaan dari noumena, karena konsep murni dari noumena adalah sebuah intuisi murni yang terlepas dari fenomena yang dialami.

2. Fenomenologi Edmund Husserl
1) Lahir atas reaksi terhadap kelemahan positivisme August Comte.
2) Menawarkan reduksi, yaitu penundaan kesimpulan atas fenomena yang sedang diteliti:
a) Reduksi Eiditis: menemukan struktur dasar untuk sampai pada yang hakiki.
b) Reduksi Fenomenologi obyek dipandang gejalanya agar mengetahui subyektifitas-transenden.
c) Reduksi Transenden : hingga menemukan kesadaran murni obyek.
A. Epoche dan Eiditic Vision
Husserl dalam metode fenomenologinya menggunakan prisip Epoche dan eidetic vision. Kata Epoche berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Menunda keputusan” atau “Mengosongkan diri dari keyakinan tertentu.” Dengan kata lain Husserl dalam metode Epoche menyuruh untuk melepaskan atau menghilangkan campur tangan dari pikiran dan teori-teori yang ada terhadap fenomena, dan membiarkan fenomena itu berjalan dengan sendirinya. Karena secara langsung maupun tidak langsung teori-teori tersebut telah memberikan sebuah pandangan yang salah terhadap fenomena yang ada dan menyebabkan kebenaran realitas menjauh dari fenomena tersebut. Sehingga dengan mengosongkan fenomena dari teori maka fenomena tersebut akan tetap murni dan Pure.
Husserl dengan Epoche-nya berusaha menyusun metodos yang menyingkapkan, seolah-olah “memperlihatkan” keadaan hakiki pada tiap-tiap obyek pengetahuan yang mungkin ada, tanpa dicampuri dengan refleksi dan pengetahuan pengalaman sedikitpun jua. Setelah mendapatkan fenomea-fenomena yang pure Husserl melanjutkan ke metode yang kedua, Eiditic Vision atau disebut juga dengan “Reduksi”, yaitu mereduksi atau menyaring fenomena-fenomena yang ada untuk sampai ke-Eidos-nya atau intisari yang sejati. Jadi dengan Eiditic Vision tersebut maka akan tersaring dan terbuang dari fenomena-fenomena tersebut perasaan, pikiran dan pandangan yang terbentuk dari pegalaman .

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/