RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus

RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus
RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus

RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus

RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus
RSTKA Temukan Anak Gizi Buruk di Pulau Sailus

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) telah kembali dari misi dharma bakti kesehatan

untuk tahun 2019. Saat ini kapal sedang berada di Labuan Bajo untuk menurunkam kru medis yang akan pulang ke kembali ke kota asal masing masing, Jumat (1/11/2019).

Misi kali ini bernama Bhakti Pangkajene Kepulauan yang dilaksanakan di 3 titik yakni Pulau Matalaang, Pulau Sapuka, dan Pulau Sailus, Sulawesi Selatan sejak 14-26 Oktober 2019. Di Pulau Sailus tim RSTKA membawa setidaknya 39 kru yakni, 12 dokter spesialis, 8 dokter umum, 7 perawat, 1 farmasi dan 11 kru kapal.

Selain dari RSTKA, para relawan datang dari berbagai lembaga serta daerah. Mulai Satuan

Pemberantasan Buta Katarak dari Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Cabang Sulsel, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Hasanuddin Makasar, Universitas Brawijaya Malang juga HIPKABI Bandung. Mereka bahu-membahu melayani ratusan pasien yang datang untuk berobat di RSTKA.
Baca Juga:

RSTKA Kembali Berlayar ke Kepulauan Indonesia Timur
Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang
Satu Tahun Bakti RSTKA untuk Indonesia
Moment of Truth Pengabdian RSTKA

Selama empat hari di Pulau Sailus, para kru medis harus berjibaku dengan penanganan spesialistik.

Ada lebih dari 500 pasien yang berobat dengan 32 jumlah tindakan operasi. Selama di Pulau Sailus RSTKA berkerjasama dengan puskesmas setempat. Sayangnya tidak ada dokter, saat itu hanya ada perawat dan bidan.

Menurut dr Asyraf Djamaludin, Sp An, salah satu dokter sukarelawan dari Unhas Makasar, sebenarnya ada 1 dokter umum di Pulau Sailus tetapi saat itu dokter tersebut sedang pulang ke kampung halaman untuk mengurus prajabatan.

“Ada dokter baru, beberapa bulan mengabdi di Sailus, tetapi tidak bertemu dengan kami karena beliaunya pulang untuk prajabatan. Sehingga selama ini akses kesehatan memang sulit di sini. Hanya ada bidan dan perawat,” ungkap dr Asyraf.

 

Baca Juga :