regularitas dalam penjelasan sejarah

Sifat Gerak Sejarah

Teori-teori yang memberikan arah dan tujuan kepada gerak sejarah dapat disimpulkan demikian :

1. Tanpa Arah tujuan. Gerak sejarah berputar-putar berulang-ulang dan tak terdapat sesuatu yang baru.
2. Pelaksanaan Kehendak Tuhan. gerak sejarah ditentukan oleh tuhan dan menuju kearah kesempurnaan manusia menurut kehendak tuhan. Manusia hanya menerima ketentuan itundengan tidak dapat mengubah nasibnya.
3. Ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia dapat menghasilkan perubahan dalam nasib yang sudah ditentukan oleh tuhan. Maka sejarah merupakan perimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia
4. Evolusi. dengan kemajuan yang tidak terbatas ,gerak sejarah membawa manusia setingkat demi setingkat terus kearah kemajuan.
5. historical-materialism yang menentukan bahwa masyarakat tak berkelas itu adalah muara daripada gerak sejarah setelah melalui masa kapitalis
Reaksi terhadap paham-evolusi itu menghasilkan beberapa aliran baru sebagai berikut:
a. Aliran menuju ketuhanan seperti umpamanya faham A. J. Toynbee, bahwa gerak sejarah itu akan sampai kepada masa bahagia apabila manusia menerima tuhan serta kehendak tuhan sebagai dasar mutlak daripada perjuangannya
b. Aliran irama gerak sejarah menurut faham Pitirim Sorokin yang menyatakan bahwa gerak sejarah tidak bertujuan apa-apa dan bahwa gerak sejarah itu hanya menunjukkan datang lenyapnya atau ganti bergantinya corak-corak: ideational sensate dan idealistic
c. Aliran kemanusiaan yaitu suatu aliran yang sangat luas yang berpusatkan pendapat mutlak bahwa manusialah yang terpenting di dunia ini
Gerak sejarah sukar ditentukan sifatnya karena kemungkinan-kemungkinan untuk memberikan tafsiran banyak sekali, tetapi betapa sukarnya juga untuk menentukan sifatnya nyatalah bahwa:
1. Dasar mutlak daripada gerak sejarah adalah manusia
2. Isi gerak sejarah adalah pengalaman kehidupan manusia
(Ali, 2012, hal. 99-104)
2.3 Tugas Manusia Dalam Sejarah
Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula.
Apabila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi melainkan sejenis makhluk biasa seperti hewan. Sejarah adalah pengalaman-pengalaman manusia dan ingatan tentang pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Maka peran manusia dalam sejarah adalah bahwa ia adalah pencipta sejarah, sebagai penutur sejarah dan pembuat sejarah. Sehingga manusia adalah sumber sejarah.
Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia berjuang terus berarti dia terus berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Ia terus diperkaya, diperindah, disempurnakan. Sejarahpun terus diperluas dengan perjuangan-perjuangan baru. Justru karena manusia menguasai warisan nenek moyang, ia dapat berjuang dengan lebih sempurna. Dengan menguasai sejarahnya, ia dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting. Masyarakat tetap, tak bergerak menuju perubahan yang mengakibatkan kemajuan dan keruntuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari sejarah. Manusia berjuang berarti bahwa ia terus berusaha memperbaiki taraf kehidupan.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/