Pembukuan berdasarkan Kurs Tetap

Pembukuan berdasarkan Kurs Tetap

Pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya pembayaran utang valas, tiap-tiap akhir tahun (31 Desember) tidak mengakui adanya selisih kurs.

15-11-2009 Pembukuan utang valas     Rp.12.000.000.000,00

14-11-2011 Pembayaran                       Rp.12.000.000.000,00

tidak ada L/R selisih kurs                                    –

  

  1. Pembukuan berdasarkan Kurs Tengah BI

Pada tiap-tiap akhir tahun dapat mengakui rugi selisih kurs.

15-11-2009 Pembukuan utang valas     Rp.12.000.000.000,00

31-12-2009 Utang valas menjadi          Rp.11.000.000.000,00

Laba selisih kurs                     Rp.  1.000.000.000,00

31-12-2010 Utang valas                        Rp.11.000.000.000,00

31-12-2010 Utang valas menjadi          Rp.13.000.000.000,00

Rugi selisih kurs                      Rp.  2.000.000.000,00

31-12-2010 Utang Valas                       Rp.13.000.000.000,00

14-11-2011 Jatuh tempo                       Rp.12.000.000.000,00

14-11-2011 Laba selisih kurs                Rp.  1.000.000.000,00

Perhatikan bahwa sebenarnya pembukuan berdasarkan kurs tetap maupun pada akhir tahun menghasilan jumlah laba atau rugi selisih kurs yang sama. Laba dan rugi selisih kurs yang terjadi akibat mengunakan kurs tengah BI pada contoh diatas bila dijumlahkan adalah nihil. Hasil nihil tersebut sama dengan hasil bila menggunakan kurs tetap. Tetapi mengingat PSAK mengharuskan penyesuaian kurs valas pada akhir tahun maka disarankan WP menggunakan sistem kurs tengah BI agar pembukuan komersial dan pembukuan fiskal tidak jauh berbeda.

Di dalam undang-undang pajak penghasilan ketentuan yang mengatur mengenai laba/rugi selisih kurs ini terdapat di dalam pasal 4 dan 6. Di dalam pasal 4 ayat (1) yang mengatur mengenai objek pajak disana disebutkan bahwa keuntungan akibat fluktuasi kurs merupakan salah satu objek pajak penghasilan. Dan sebaliknya di dalam pasal 6 UU PPh nomor 7 tahun 1983 sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan UU 36 tahun 2008 disebutkan bahwa salah satu biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah kerugian dari selisih kurs. Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.

Sebenarnya pembahasan mengenai laba rugi kurs ini terkait erat dengan pembukuan mata uang asing. Namun agar pembahasannya tidak terlalu melebar maka akan difokuskan terhadap perlakuan pajak atas laba rugi selisih kurs, sedangkan pembukuan mata uang asing akan ditulis secara umum saja.