Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan

G.W.F Hegel

Hegel mengembangkan kerangka filosofis yang komprehensif, atau “sistem”, idealisme Absolute ke penjelasan secara terpadu dan perkembangan bagi hubungan pikiran dan alam, subyek dan obyek pengetahuan, psikologi, negara, sejarah, seni, agama, dan filsafat. Secara khusus, ia mengembangkan konsep bahwa pikiran atau roh terwujud dalam serangkaian kontradiksi dan pertentangan yang pada akhirnya terintegrasi dan bersatu, tanpa menghilangkan kedua kutub atau mengurangi satu ke yang lain. Contoh kontradiksi tersebut termasuk yang antara alam dan kebebasan, dan antara imanensi dan transendensi. Hegel adalah seorang idealis yang berpendapat bahwa pikiran adalah landasan segala apa yang maujud. Selain itu, Hegel juga seorang dualis yang berpendapat tentang adanya dua unsur yang sepenuhnya berbeda, yaitu unsur spiritual dan material, yang terhimpun dalam satu ruh atau pikiran yang dipandang sebagai kekuatan tertinggi yang menggerakkan segala sesuatu. Pikiran atau ruh itu disebut dengan akal mutlak. Untuk membuktikan teorinya ini Hegel mempergunakan polemik. Lewat cara ini ia berpendapat bahwa akal manusia selalu bergerak ke depan untuk mencapai ilmu mutlak. Menurut Hegel, ide kebebasan merupakan kunci hakiki dari sejarah. Sebab kebebasan adalah substansi akal budi dan akal budilah yang mengendalikan alam. Sedang perjalanan sejarah dalam filsafatnya adalah semacam kemajuan dialektis di mana berlangsung penghancuran dan pembangunan kembali, untuk merealisasikan perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara kejeniusan atau semangat bangsa – yang tertampilkan dalam diri individu-individu tapi mandiri dari kehendak dan maksud mereka – adalah pencipta sebenarnya kebudayaan. Sedangkan sejarah, dalam filsafat Hegel, adalah arena di mana muncul berbagai bangsa untuk mengungkapkan semangat universal, tapi hanya para pahlawan dan jenius saja yang mampu memahami substansi semangat itu.

Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu prinsip.

Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani.  Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menjadi itu, yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide (“Yang Mutlak”), namun adalah materi belaka.  Maksudnya, yang sesungguhnya ada adalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan.  Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini.

SUmber: https://cipaganti.co.id/