Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman

Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman
Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman

Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman

Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman
Kemudahan Layanan Pendidikan Dalam Genggaman

BANDUNG – Dunia pendidikan Kota Bandung membuat terobosan pelayanan publik. Hal itu ditandai dengan dikeluarkannya inovasi program Bandung Smart School pada Selasa 1 November 2016 bertepatan dengan hari Inovasi Nasional. Peluncuran dilakukan oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana di Aula SMPN 1 Bandung.

Bandung Smart School merupakan program layanan pendidikan berbasis teknologi informasi (TI). Sebagai spirit yang tengah menjadi konsern Dinas Pendidikan (Disdik), untuk terus memberi pelayanan dan tata kelola pendidikan menggunakan TI. Upaya ini dilakukan bagi kemudahan akses masyarakat dan transparansi pengelolaan birokrasi.

’’Bandung Smart School dapat diakses oleh pegawai, guru, peserta didik dan orang tua melalui aplikasi mobile di smartphone maupun dengan menggunakan internet di komputer. Untuk orangtua berupa laporan absensi, nilai dan posisi anak,’’ ujar Kadisdik Elih Sudiapermana.

Menurut Elih, dalam penerapannya, Bank BJB Taman Sari hadir dengan bantuan sejumlah 25 Perangkat Edu Box

yang dibagikan ke 25 Sekolah terpilih. Hal ini merupakan bentuk kepedulian Bank BJB terhadap peningkatan Mutu Pendidikan di Kota Bandung. Bagi sekolah dengan perangkat Edu Box, pada kondisi ini pengguna tidak harus langsung terkoneksi ke internet. Melainkan, cukup melalui koneksi jaringan sekolah atau local area network (LAN). Kedua, sekolah tanpa perangkat Edu Box, di mana pengguna bisa langsung mengakses aplikasi Bandung Smart School menggunakan akses internet. Namun, keduanya akan tetap terhubung ke server aplikasi Bandung Smart School.

’’Kenapa dibagi menjadi dua, intinya untuk memudahkan saja,’’ kata dia di kantornya. Pria berkaca mata ini menjelaskan, di dalam Bandung Smart School terdiri atas enam layanan. Yakni, kelas digital, media bahan ajar, tautan bahan ajar, kolaborasi sekolah dan orang tua, administrasi sekolah, serta ujian dan tugas dalam jaringan. Masing-masing layanan ini memiliki inforamasi spesifik.

Misal, kata Elih, pertama dalam kelas digital, akan terjadi aktivitas kegiatan belajar

mengajar yang biasanya terjadi di kelas konvensional. Tapi, tanpa tatap muka. Buku-buku dibuat digital. Sedang dikembangkan juga di layanan ini Assessment Centre. Sebuah layanan pendidikan sepanjang hayat untuk meningkatkan lama waktu kesempatan pendidikan. Artinya, bagi siapapun, usia berapapun, kapanpun, tanpa ada biaya, namun bisa tetap menikmati layanan pendidikan. Tinggal daftar. Lalu peserta didik akan dikelompokan pada pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersedia. Setelah itu, peserta didik tinggal mengikuti ujian.

Kedua, layanan media bahan ajar. Di situ merupakan tempat penyimpanan dokumen materi pembelajaran terstruktur. Berdasarkan standar kompetensi/kompeten sidasar (SK/KD). Maupun berdasarkan kompetensi inti/kompetens idasar (KI/KD). Ketiga, tautan bahan ajar. Berisi link ke semua link sumber di dunia. Dari tempat-tempat media belajar yang diisi oleh orang lain. Baik dalam maupun luar negeri.

Keempat, kolaborasi sekolah dan orang tua. Di layanan ini akan bisa diketahui nilai dan absensi.

Bisa terjadi komunikasi antara guru, orang tua, kepala sekolah dan wali kelas terkait kondisi peserta didik. Bagi pelajar SMP orang tua bisa komunikasi dengan guru bimbingan konseling. Ada juga layanan komunikasi dengan pembimbing anak berkebutuhan khusus.

 

Sumber :

https://weareglory.com/teks-eksposisi/