KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM
KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM
KEDUDUKAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga boleh menjatuhkan kelembah maksiat (zina dan sebagainya) sedangkan ia seorang yang mampu, disini mampu yang dimaksud adalah ia mampu membayar mahar (mas perkawinan/dower) dan mampu nafkah kepada bakal istrinya. Dalam masa ini boleh didahulukan perkawinan dari naik haji karena gusar penzinaan akan berlaku, tetapi jika dapat dikawal nafsu, maka ibadat haji yang perlu didahulukan, karena beliau seorang yang berkemampuan dalam segala aspek.

  • Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat mengawal nafsunya.
  • Harus kepada orang yang tidak ada padanya galakan dan bantahan untuk berkawin dan ini merupakan hukum asal perkawinan.
  • Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir tetapi sekedar tidak memberikan kemudaratan bagi istri, sama ada ia kaya atau tiada nafsu yang kuat.
  • Haram kepada orang yang tidak berkemampuan untuk memberikan nafkah
    batin dan lahir, dan ia sendiri tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan. untuk berkawin serta akan menganiaya istri jika dia berkawin.
  1. 3MASALAH  PERKAWINAN

Pada umumnya salah satu tanda kegagalan suami-istri dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai begitu mudah.

Masalah diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:

  • Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi.
  • Perbedaan watak.
  • Temperamen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara  suami dan istri.
  • Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
  • Kejenuhan rutinitas.
  • Hubungan antara keluarga besar yang kurang baik.
  • Adanya istilah WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain).
  • Masalah harta warisan.
  • Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
  • Domonasi dan intervensi orang tua atau mertua.
  • Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

Dari salah satu masalah diatas yaitu kesalahpahaman yang menyebabkan pasangan menjadi tersinggung, sehingga terkadang memicu adanya perceraian, merupakan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena kesalahpahaman itulah yang terkadang pasangan enggan untuk membuka komunikasi dengan pasangannya yang kemudian menimbulkan misskomunikasi. Tanpa mereka sadari dengan keadaan seperti itu malah akan membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun. Komunikasi yang intern dan baik akan melahirkan saling keterbukaan dan suasana keluarga yang nyaman.
Allah juga memerintahkan kepada suami-istri untuk selalu berbuat baik.
Suami dan istri sering beranggapan bahwa masalah yang timbul akan
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang.

Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Tabungan cinta cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah dengan berkurangnya cinta dan kasih sayang, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.

Sumber : https://merkbagus.id/