Definisi Prekursor Farmasi

Definisi Prekursor Farmasi

Menurut PERMENKES nomor 3 tahun 2015, Prekursor Farmasi adalah zat atau bahan pemula atau kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku/penolong untuk keperluan proses produksi Industri Farmasi atau produk antara, produk ruahan dan produk jadi/obat jadi yang mengandung efedrin, pseudoefedrin, norefedrin/fenilpropanolamine, ergotamine, ergometrine atau potassium permanganat.

Prekursor di Indonesia peredarannya diawasi oleh pemerintah. Beberapa instansi yang mengawasi peredaran prekursor antara lain, POLRI, BNN, Bea Cukai, BPOM, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta Departemen Kesehatan. Precursor tersebut digtunakan untuk keperluan proses produksi industri sediaan farmasi. Penyimpangan terhadap prekursor biasanya digunakan untuk membuat narkotika dan psikotropika yang kemudian diperjual belikan secara ilegal.

Pengelolaan Obat Mengandung Prekursor Farmasi Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit

  1. Pengadaan
  2. Pengadaan obat mengandung Prekursor Farmasi harus  berdasarkan Surat Pesanan (SP).
  3. Surat Pesanan (SP) harus:

1)      Asli dan dibuat tindasannya sebagai arsip;

2)      Ditandatangani oleh Apoteker Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit disertai nama jelas dan nomor Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA)di Instalasi Farmasi  Rumah Sakit, nomor dan tanggal SP

3)      Mencantumkan nama dan alamat Industri Farmasi/PBF/Rumah Sakit tujuan pemesanan. Dalam keadaan mendesak Rumah Sakit diperbolehkan memesan ke Apotek misalnya pemesanan sejumlah obat yang dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan jumlah obat yang diresepkan.

4)      Mencantumkan nama obat mengandung Prekursor Farmasi, bentuk dan kekuatan sediaan, jenis dan isi kemasan

5)      Diberi nomor urut tercetak dan tanggal dengan penulisan yang jelas

6)      Khusus untuk pesanan obat mengandung Prekursor Farmasi dibuat terpisah dari surat pesanan obat lainnya dan jumlah pesanan ditulis dalam bentuk angka dan huruf.

7)      Apabila pemesanan dilakukan melalui telepon (harus menyebutkan nama penelpon yang berwenang), faksimili, email maka surat pesanan asli harus diberikan pada saat serah terima barang, kecuali untuk daerah-daerah tertentu dengan kondisi geografis yang sulit transportasi dimana pengiriman menggunakan jasa ekspedisi, maka surat pesanan asli dikirimkan tersendiri.

  1. Rumah sakit yang tergabung di dalam satu grup, masing-masing Rumah sakit harus membuat SP sesuai kebutuhan kepada Industri Farmasi/PBF.
  2. Apabila karena suatu hal SP tidak dapat digunakan, maka SP yang tidak digunakan tersebut harus tetap diarsipkan dengan diberi tanda pembatalan yang jelas.
  3. Apabila SP Rumah Sakit tidak bisa dilayani, Rumah Sakit harus meminta surat penolakan pesanan dari Industri Farmasi/PBF/Rumah Sakit pengirim.
  4. Pada saat penerimaan obat mengandung Prekursor Farmasi harus dilakukan pemeriksaan kesesuaian antara fisik obat dengan faktur penjualan dan/atau Surat Pengiriman Barang (SPB) antara lain:

1)      Kebenaran nama produsen, nama obat mengandung  Prekursor Farmasi, jumlah, bentuk dan kekuatan sediaan, jenis dan isi kemasan.

2)      Nomor batch dan tanggal kadaluwarsa.

3)      Apabila kemasan obat dalam kondisi dan penandaan rusak, terlepas, terbuka dan tidak sesuai dengan SP, maka obat dapat dikembalikan kepada pengirim disertai dengan bukti retur/surat pengembalian dan salinan faktur penjualan dan meminta nota kredit dari Industri Farmasi/PBF/Rumah Sakit pengirim.

  1. Setelah dilakukan pemeriksaan Kepala Instalasi Farmasi Rumah  Sakit  atau  tenaga  teknis  kefarmasian  wajib menandatangani Surat Pengiriman Barang (SPB) dan faktur penjualan dilengkapi dengan nama jelas, nomor SIPA/SITTK, dan stempel Rumah Sakit.
  2. SP obat mengandung Prekursor Farmasi dalam pengadaan tender dibuat terpisah dan menjadi dokumen pendukung Surat Perjanjian Kontrak (SPK). Berita acara penerimaan barang dibuat setelah obat mengandung Prekursor Farmasi diterima oleh Panitia Penerima Barang.

Sumber: https://poekickstarter.com/akhir-november-iphone-x-tiba-di-14-pasar/