3 Pola Asuh Orang Tua Guna Anak

Pola asuh anak pasti sangat urgen dipelajari oleh semua orang tua, bahkan seluruh orang dewasa. Karena melewati pola asuh, dapat menyusun karakter dan jati diri anak. Setiap pasangan tentu mempunyai pola asuhnya setiap untuk anak. Pola asuh terdiri dari dua kata yakni pola dan asuh.

Berdasarkan keterangan dari KBBI, pola berarti corak, model, sistem, teknik kerja, bentuk. Sedangkan asuh dapat ditafsirkan menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, menuntun (membantu, mengajar dan sebagainya). Dari makna dua suku kata tersebut, bisa didefinisikan bahwa pola asuh ialah bagaimana orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta mengayomi anak dalam menjangkau proses kedewasaan, sampai kepada upaya pembentukan norma-norma yang diinginkan oleh masyarakat umum.

Lalu bagaimanakah pola asuh Ayah Bunda untuk anak? Nah, terdapat tiga pola asuh orang tua terhadap anak, yakni:

1. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter merupakan teknik didik orang tua yang berkuasa terhadap anak. Mengasuh anak dengan aturan-aturan yang ketat. Jika anak membantah, maka bakal mendapat hukuman, yang seringkali berupa hukuman fisik. Orang tua memaksa anak guna berperilaku laksana dirinya, anak tidak diberi kemerdekaan untuk berpendapat, dan tidak terdapat reward atau pujian karena dirasakan sudah sewajarnya anak menuruti orang tua. Pola asuh otoriter ini akan menciptakan anak tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak kreatif. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh otoriter, yaitu tidak cukup komunikasi, paling berkuasa, suka menghukum, tidak jarang kali mengatur, suka memaksa, mempunyai sifat kaku.

2. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif yakni kebalikan dari pola asuh otoriter. Orang tua serba membolehkan anak melakukan apa saja. Anak bebas guna berperilaku cocok dengan keinginannya sendiri tanpa adanya pemantauan dari orang tua. Pola asuh permisif ini akan menciptakan anak ingin menjadi manja, agresif, susah bekerja sama dengan orang lain, berperilaku cocok dengan keinginannya sendiri. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh permisif, yaitu tidak cukup membimbing, tidak cukup mengontrol anak, tidak pernah menghukum anak, anak lebih berperan daripada orang tua, dan memberi kemerdekaan penuh terhadap anak.

3. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis ialah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan destinasi untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan perbuatan antara anak dan orang tua. Pola asuh ini menyimak dan menghargai kemerdekaan anak, tetapi orang tua tetap memberikan tuntunan yang sarat pengertian untuk anak. Memberi kemerdekaan anak berpendapat, dan memberi reward berupa pujian guna kemampuannya. Hal ini mendorong anak untuk dapat berdiri sendiri dan yakin dengan dirinya. Pola asuh demokratis ini menciptakan anak menjadi orang yang menerima kritik, dapat menghargai orang lain, mempunyai keyakinan diri yang tinggi dan dapat bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh demokratis, yakni suka bertukar pikiran dengan anak, memperhatikan keluhan anak, memberi tanggapan, komunikasi yang baik, dan tidak kaku.

Sumberhttps://www.surveymonkey.com/r/2F37V3K