10 tahun pemerintahan ‘Umar

Kebijakan Umar

‘Umar ibn Khattāb dilahirkan di lingkungan kabilah Bani ‘Adi Ibn Ka’ab 30 tahun

sebelum masa kenabian, Ia hidup selama 65 tahun. ‘Umar adalah anak dari al-Khattāb ibn Nufail ibn Abdul-Uzza ibn Riyah ibn Abdullah ibn Qurt ibn Razah ibn Adi ibn Ka’ab, Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim ibn al-Mugirah ibn Abdullah ibn ‘Umar ibn Makhzum. ‘Umar lahir pada waktu sebelum fajar dan ia merupakan anak ke-16.
‘Umar masuk Islam sesudah Muslimin hijrah ke Abisinia dan jumlah orang yang hijrah itu hampir mencapai sembilan puluh orang laki-laki dan perempuan. Sesudah mereka hijrah, ‘Umar bermaksud mendatangi Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta Muslimin yang lain di Darul Arqam di Safa dan jumlah mereka laki-laki dan perempuan empat puluh orang.
Wataknya yang keras, tegas dan sederhana membawa dampak positif dalam penyebaran agama Islam. Perawakannya yang besar serta mentalnya yang berani berdampak positif terhadap perlindungan Rasulullah dari orang-orang kafir, yang sebelumnya Umar adalah orang yang paling membenci Rasulullah. ‘Umar juga dikenal sebagai orang yang pandai berpendapat dan piawai dalam mengemukakan alasan yang masuk akal. ‘Umar selalu aktif berpendapat dalam hal apapun, pendapatnya yang logis senantiasa mendapat perhatian dari Rasulullah SAW. Namun, tak jarang pula ‘Umar berselisih pendapat dengan Nabi SAW, seperti dalam kasus Nabi SAW hendak menshalati Abdullah ibn Ubai seorang tokoh munafik yang meninggal dunia.
Selama 10 tahun pemerintahan ‘Umar, negara mengalami perubahan kondisi perekonomian sebagai akibat lebih lanjut dari penaklukan-penaklukan yang terjadi. Penaklukan-penaklukan tersebut membuat terbukanya sumber-sumber ekonomi yang tidak diperoleh sebelumnya. Di masa pemerintahannya, negara menerima seperlima rampasan perang dari setiap pasukan muslim yang memperoleh kemenangan. Pajak tanah dari mereka yang sudah terikat dalam perjanjian yang hidup dari tanah mereka dan juga pajak perlindungan diri yang berasal dari mereka yang kalah tetapi tidak masuk Islam. Selama masa pemerintahannya, ia disibukkan dalam menentukan perkembangan Islam untuk masa-masa selanjutnya. Maka menjadi konsekuensi logis bagi seorang pemimpin dengan wilayah negara yang semakin luas untuk mengambil beberapa kebijakan-kebijakan.


Sumber: https://ngegas.com/