Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri

Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri
Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri

Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri

Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri
Waspadai Inflasi Pasca Idul Fitri

BANDUNG-Salah satu penyebab tingkat inflasi tahunan Jabar

yang cukup tinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa adalah seiring faktor musiman Ramadhan dan jelang Hari Raya Idul Fitri. Pada periode tersebut, inflasi di Jabar mencapai 0,72 persen sekaligus yang tertinggi di Pulau Jawa.

Adapun dari sisi komoditas, sepanjang semester I-2016, terdapat 14 dari 20 komoditas yang paling sering muncul sebagai pemberi andil inflasi. Bawang putih menjadi komoditas volatile foods yang paling sering menjadi penyumbang inflasi selama periode Januari-Juni 2016.

“Kelompok volatile food memberikan andil inflasi terbesar pada Juni 2016,

yakni sebesar 0,57 persen atau mengalami inflasi 3,08 persen (mtm) Dan 10,80 persen (yoy). Realisasi inflasi tahunan ini merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan historis inflasi tahunan volatile food bulan Ramadhan selama periode 2011-2015, kecuali 2013,” kata Kepala Perwakilan BI Jabar Rosmaya Hadi.

Dari sisi perkembangan inflasi di 7 Kota pantauan, pada Juni 2016

Kota Depok, Kota Bandung, Kota Tasikmalaya memiliki inflasi tahunan yang lebih tinggi dibandingkan inflasi Jabar maupun nasional, yakni masing-masing 3,49 persen (yoy), 3,54 persen (yoy), dan 4,14 persen (yoy). Secara kumulatif, pada perkembangan semester I-2016, Kota Bekasi berada di posisi terendah dengan 0,86 persen (ytd). Sedangkan yang tertinggi adalah Kota Tasikmalaya dengan inflasi sebesar 1,63 persen (ytd).

“Kami terus mencoba memetakan persoalan yang terjadi termasuk mencari solusinya secara menyeluruh. Termasuk meningkatkan produksi, perbaikan infrastruktur dan distribusi yang merata,” katanya.

 

 

Baca Juga :