Melankolis Adalah

Melankolis Adalah
Melankolis Adalah

Melankolis Adalah

Melankolis Adalah

 

Bicara tentang kebenaran, bicara tentang kebohongan, sepertinya

takkan habisdemonstrasi3 cerita tentang itu. Dan berita pun tak henti-henti berteriak menyampaikan suatu yang tak jelas adanya. Mereka bertindak seperti tak punya etika, meski tidak semua demikian. Tapi kami pun punya hak atas manfaat yang kau kerjakan. Lalu mereka bicara tentang aspirasi rakyat, padahal tidak jelas apa yang ia sampaikan. Seperti mengarang dongeng saja. Kita seakan-akan diberi hak untuk berpendapat, tapi tak pernah di tulis dan dianggap tak ada. Mereka bukan dewa selalu benar dan kita bukan kerbau yang kau bohongi. Memang demikian jika bukan pemimpin yang pandai. Hal paling dasar saja tidak tahu. Yang mereka tahu hanya perut, tak peduli dengan yang lain. Mereka bicara tentang hukum, mereka bicara tentang kebaikan. Setidaknya itu yang tertuang dalam undang-undang, tapi entah mengapa. Yang paling dekat saja tak tersentuh, dan masih satu daratan. Mungkin cara berpikir mereka yang terlalu sempit. Tapi tak mengerti mengapa begitu, sedang mereka pernah dididik. Cuma pada kebenaran kita berharap, atau mungkin kebenaran hanya ada dilangit.

 

Dan dunia hanyalah palsu

0ef101ef2e9b37ef63aab836ba0905d4Saya tak tahu mengapa, saya agak merasa melankolis malam ini, saya melihat lampu lampu dan arus lalu lintas dengan warna-warna yang indah, seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Melihat orang-orang malang temeram di pinggir jalan. Sungguh ironis memang yang terjadi di Negara ini. Mereka bicara tentang fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara Negara, dan kemudian saya bertanya-tanya, inikah cara Negara memelihara mereka. Struktural memang masalah negeri ini. Tak sepenuhnya juga salah mereka, yang senang berpuitis, mereka yang berlalu lalang melihat mereka, hanya terdiam dan menganggap tak ada. Lihatlah kau jakartaku, kau kini berwajah muram. Kebijakan yang tak jelas arahnya, tak sulit mencari kebijakan pembangunan merata, tapi hanya Jakarta saja yang tersentuh. Sepertinya kebijakan lebih masuk ke telingga kita sebagai antonim, bukan sebagai perintah yang harus dikerjakan.

 

“Kita generasi baru, sudah saatnya memberantas generasi tua

yang mengacau. Kita akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh korupsi. Kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia. Orang-orang yang berkuasa sekarang adalah mereka yang dibesarkan pada zaman hindia-belanda. Mereka adalah pejuang kemerdekaan yang gigih. Tapi kini mereka menghianati apa yang diperjuangkan. Dan rakyat makin lama makin menderita. Aku bersamamu orang-orang malang. Siapa yang bertanggung jawab akan hal ini. Mereka, generasi tua. Semua para pemimpin-pemimpin yang harus ditembak mati dilapangan banteng.” dikutip dari film GIE.

 

Sebagai mahasiswa sudah seharusnya mampu menunjukan taringnya

tak hanya diam dan melihat semua kebohongan ini. Mendiamkan kebohongan adalah suatu kejahatan. Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Setidaknya “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, berikut merupakan kutipan dari Soe Hok Gie.

 

Kita seolah-olah merayakan demokrasi

tapi tak mengerti apa artinya itu. Saya harap kita mampu bersikap dewasa, dan bilang yang benar itu benar, yang salah itu salah. Tak sepatutnya kita menutup mata atas yang terjadi. Mengubah cara berpikir lama yang tak baik. Tentunya tak hanya sekedar berubah, tapi harus diikuti dengan perbaikan. Suara kita tak kan didengar jika tidak melawan pada kesewenang-wenangan di negeri ini. Tak hanya bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tapi menindas jika berkuasa.

Baca Juga :